Latar Belakang
Nauru merupakan negara kecil yang terletak di Samudra Pasifik bagian Selatan, sekitar 42 km Selatan dari garis khatulistiwa, 4000 km timur lautdari Sydney Australia, dan 7.000 km dari Jakarta Indonesia.
Memiliki luas 21 km2 (kurang lebih seluas kota Mojokerto) dan masuk dalam wilayah negara-negara oceania. Selain itu, Nauru memiliki populasi sebesar 12.000 (Data Bank Dunia 2023).
Namun, dibalik kecilnya negara ini, ada peristiwa besar yang tersembunyi didalamnya. Penasaran? Yuk kita bahas.
Negara Terkaya di Dunia pada Tahun 1980-an
Tahukah kamu? Bahwa Nauru pernah dinobatkan sebagai negara terkaya di dunia pada tahun 1980-an, lhoo.
Hal ini terjadi karena wilayahnya dipenuhi dengan fosfor kualitas tinggi yang baik dalam pertanian, khususnya dalam pengolahan pupuk.
Tercatat dari penjualan fosfat di tahun 1980, Nauru mendapatkan pemasukan paling sedikit 123 juta dollar AS. Pemasukan itu belum termasuk penerimaan dari pajak dan royalti.
Nauru sempat bertengger di posisi teratas negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia, mencapai 27.000 dollar AS/tahun, jauh di atas pendapatan per kapita AS yang di tahun yang sama sebesar 12.500 dollar AS/tahun.
Fosfor Merupakan Kunci Emas
Fosfor merupakan senyawa kimia organik yang dihasilkan oleh kotoran (dalam kasus ini berupa kotoran burung) yang keras dan membatu selama berjuta-juta tahun.
Kandungan fosfor yang ada di Nauru sangatlah berharga dan berkualitas tinggi, hal ini menyebabkan fosfor Nauru banyak diburu dan dicecar oleh negara asing, khususnya Australia.
Banyak negara berlomba-lomba berinvestasi untuk membuka tambang disana, penambangan yang sangat amat masif membuat cadangan devisa Nauru meningkat signifikan.
Kehidupan di Nauru Bagai Utopia
Cadangan devisa yang besar dimanfaatkan oleh pemerintah untuk pendidikan gratis, penghilangan pajak, biaya rumah sakit gratis, hingga foya-foya seperti membeli kapal mewah.
Banyak anak muda di Nauru yang diberangkatkan ke Australia untuk mengenyam pendidikan disana, masuk ke universitas-universitas bergengsi yang sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah.
Warga Nauru ibarat berada dalam Utopia atau surga dunia, segalanya gratis dan hidup selalu terasa tercukupi.
Namun, Utopia itu hanya berlangsung sebentar saja, sebelum diterkam oleh kenyataan pahit yang menunggu.
Awal Kehancuran Nauru
Pada awal 1990-an, akibat masifnya praktik penambangan fosfor disana, jumlah fosfor menurun drastis, mulai banyak negara yang meninggalkan Nauru karena dirasa sudah tidak memiliki nilai.
Akibat penambangan ini, sekitar 80% wilayah Nauru mengalami kerusakan, kehilangan flora dan fauna, hingga kualitas tanah yang buruk, menjadikan warganya tak bisa menanam dengan baik.
Selain itu, kualitas peresapan air oleh tanah pun berkurang akibat penambangan ini, hal ini menimbulkan ancaman serius, karena air laut yang terus meningkat dan melahap tanah.
Rakyat Konsumtif, Negara Tidak Produktif
Masyarakat telah terbiasa hidup mewah, hampir semuanya tidak memiliki pengalaman bertahan hidup, hal ini membuat masyarakatnya jatuh miskin.
Kebiasaan konsumtif masyarakat mau tak mau harus berubah menjadi produktif. Banyak warga yang beralih mencoba profesi sebagai nelayan dan berkebun demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Namun, hasilnya tidak efisien dan efektif, karena banyak warganya telah terbiasa hidup hedon.
Obesitas Mengancam Kehidupan Masyarakat
Banyak restoran fast food yang buka di Nauru, menyebabkan warganya menjadi konsumtif, mengakibatkan banyak masyarakat terbiasa memakan makanan cepat saji yang tidak sehat yang tinggi karbohidrat dan sedikit gizi, hal ini membuat banyak masyarakat Nauru terdampak obesitas.
Selain obesitas, banyak warga menderita diabetes dan penyakit lainnya yang mengancam produktivitas.
Kondisi Nauru Pasca Keruntuhan
Setelah cadangan fosfat habis total sekitar awal 2000-an, PDB per kapita Nauru yang dulu sangat tinggi ambruk, dan pengangguran melonjak hingga sekitar 90 %, dengan 95 % pekerja kini bekerja di sektor publik dan fasilitas pengungsi Australia.
Kesimpulan
Kejadian yang menimpa Nauru bisa dijadikan pembelajaran bagi Indonesia akan pentingnya manajemen keuangan jangka panjang.
Penambangan yang berlebihan akan berdampak buruk bagi lingkungan, yang tentunya akan merugikan negara dan masyarakat di dalamnya.
The Circle Office Sebagai Solusi Legalitas Usaha
Kini kamu sudah tahu 7 kesalahan umum yang sering terjadi di kalangan pebisnis pemula, untuk itu Mici punya solusinya.
The Circle Office hadir untuk membantumu mewujudkan perlindungan hukum atas merek dengan proses yang cepat, mudah, dan terjangkau. Didukung oleh tim profesional yang berpengalaman, kamu bisa mendaftarkan merek dengan aman tanpa ribet.
Keunggulan Kami:
- Harga bersahabat
- Proses transparan & cepat
- Tim ahli hukum kekayaan intelektual
Jangan tunggu sampai merekmu diambil orang lain.
Segera daftarkan brand kamu bersama The Circle Office.


